Jumat, 01 Mei 2026

KHIDMAT ULANG TAHUN

Di sebuah ruang yang dulu sunyi dari tepuk tangan, kini mulai terdengar riuh oleh sesuatu yang disebut “khidmat.” Anehnya, khidmat itu datang dalam bentuk balon, kue, dan lilin yang ditiup dengan penuh harap—bukan oleh yang berulang tahun, tetapi oleh mereka yang merasa paling berhak merayakan.

Saya berdiri agak jauh, menyaksikan pemandangan ini seperti seorang pengamat yang terlambat memahami zaman. Para murid tampak berseri-seri, seolah-olah mereka baru saja menemukan bentuk baru dari cinta kepada guru. Mereka berbisik, menyusun rencana diam-diam, mengumpulkan dana, dan menyiapkan kejutan. Semua dilakukan atas nama penghormatan. Atas nama khidmat.

Namun di sudut lain, ada satu pertanyaan kecil yang enggan pergi: apakah setiap ekspresi yang tampak khidmat benar-benar lahir dari pemahaman tentang khidmat itu sendiri?

Sebab saya teringat, dahulu kami diajarkan sesuatu yang terasa lebih sunyi, bahkan nyaris tak terlihat. Bahwa menjadi murid itu bukan tentang apa yang tampak oleh mata guru, tetapi apa yang tersembunyi dalam adab. Bahwa penghormatan bukan sesuatu yang diumumkan, melainkan sesuatu yang dirasakan—bahkan oleh guru yang tidak menyadarinya.

Kini, khidmat tampak berubah menjadi peristiwa. Ia butuh panggung. Butuh dokumentasi. Butuh tepuk tangan. Dan ironisnya, ia juga butuh pengakuan—setidaknya dari sesama murid—bahwa “kami telah melakukan sesuatu untuk guru kami.” Seolah-olah khidmat tanpa saksi adalah khidmat yang gagal.

Padahal, dalam diam seorang guru, ada kemungkinan lain yang jarang dipikirkan: barangkali ia tidak sedang menunggu dirayakan. Barangkali ia justru sedang berusaha melupakan dirinya sendiri, agar ilmunya tidak terhalang oleh bayangan dirinya. Sebab menjadi guru, sebagaimana pernah diajarkan kepada kami, adalah tentang menghilang—bukan tentang hadir sebagai pusat perhatian.

Seorang guru yang tidak mengharap segelas air di kelas, bukan karena ia tidak haus, tetapi karena ia sedang mendidik dirinya untuk tidak bergantung pada muridnya. Dan seorang guru yang tidak menunggu sapaan di luar kelas, bukan karena ia tidak ingin dihormati, tetapi karena ia sedang menjaga agar penghormatan itu tetap murni, tidak berubah menjadi kewajiban sosial yang hampa.

Lalu ketika murid datang dengan kue dan lilin, dengan kamera dan ucapan panjang, saya bertanya-tanya: apakah ini bentuk cinta yang baru, atau justru cara halus untuk mengubah guru menjadi sesuatu yang dulu ia hindari?

Saya rasa, jika kita mau sedikit jujur, sang guru akan merasa jauh lebih “senang”—jika kata itu masih pantas dipakai—bukan ketika lilin dinyalakan, tetapi ketika ilmunya dihidupkan. Bukan ketika namanya disebut-sebut dalam ucapan selamat, tetapi ketika ajarannya diam-diam diamalkan, diajarkan kembali, dan diwariskan tanpa banyak suara. Sebab apa arti satu hari perayaan, dibanding satu generasi yang benar-benar melanjutkan ilmu?

Namun tampaknya, mewarisi ilmu tidak sepopuler meniup lilin. Mengajarkan kembali pelajaran kepada teman yang belum paham tidak semenarik membuat kejutan dengan latar belakang lagu haru. Khidmat yang panjang dan sunyi kalah pamor dari khidmat yang singkat tapi fotogenik.

Dan di titik ini, izinkan saya sedikit jujur, meski mungkin terdengar tidak sopan bagi zaman: saya risih.

Ya, risih dalam arti yang paling sederhana. Sebagai orang yang pernah duduk menemani santri belajar, saya tidak nyaman ketika teman-teman santriku bicara soal ulang tahunku. Bahkan tak sekali saya katakan kepada teman-teman: saya risih dengan ini. Bukan karena saya menolak cinta, tetapi karena saya takut cinta itu salah alamat—atau setidaknya salah cara.

Sebab jika benar ada dorongan untuk berkhidmah, jalan itu sebenarnya tidak sejauh toko kue atau percetakan spanduk. Ia justru sangat dekat: duduk kembali, membuka kitab, lalu mengajarkan kepada santri lain yang belum sempat mendapatinya. Tanpa lilin, tanpa kamera, tanpa perlu menunggu tanggal tertentu.

Tapi mungkin memang begitu nasib khidmat di zaman ini: ia pelan-pelan berubah menjadi seremoni, dari yang dulu tersembunyi menjadi harus ditampilkan, dari yang dulu sunyi menjadi harus dirayakan.

Dan saya kembali pada pertanyaan yang sama: jika khidmat harus dirayakan agar terasa, apakah itu masih khidmat—atau ia hanya sedang mencari cara agar terlihat seperti khidmat?

Sementara di sudut lain, seorang guru mungkin hanya berharap satu hal yang jauh lebih sederhana: agar ilmunya tidak berhenti pada satu kepala, dan tidak pula habis pada satu perayaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar